About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

Kamis, 08 Juli 2010

MATA

MATA

Dua bola bening nan meneduhkan itu…
Kuakui yah…untuk “ukuran kesan pertama”…matamu memang mempesona
Membuatku ingin berlama-lama menatapmu.
Sah…matamu membiusku.

Matamu memang luar biasa waktu itu.
Bergerak…perlahan…penuh makna…seiring sejalan dengan setiap kata-kata yang melncur dari bibirmu.
Kutahu…matamu itu…memang sempurna.

Pada suatu hari…saat hari pertama kumelihat mata indahmu itu telah berlalu…
Aku benar-benar melihat mata paling sempurna sedunia...
Tik…satu detik beserta satu kalimat itu.
Oh, sungguh matamu telah menjadi “yang paling indah sedunia”
Belum lagi bonus kalimat yang meluncur dari bibirmu kini memang sangat tulus.
“aku cinta kamu”, katamu pelan…huuuuuh…hatiku ini rasanya seperti padang gurun yang tiba-tiba diguyur air gunung…
Matamu  dan mataku…ikut hatiku dan hatimu…
Kita…bersama…berdua…melekat erat
Dan kemudian…jiwa kita membeku di peraduan itu…

Pada suatu hari lagi…yang kusebut kemudian hari…setelah berhari-hari kita mendekam di peraduan…
Untuk pertama kalinya matamu tak seindah pertama kali…
Matamu tak lagi bening…tak lagi penuh makna…
Tak lagi bening tapi berganti keruh…
Tak mampu lagi meneduhkanku…tapi sebaliknya membuatku ingin cepat berlalu…

“Kita putus.” Ucapmu.
Aku diam…tak kuasa memandang matamu…
Karena kutahu, makin aku memandangmu…makin jiwaku terbunuh.
Ternyata matamu tak seindah dulu.
Matamu tak lagi berfungsi dengan baik.
Karena kau telah memutuskan untuk mengalihkan pandanganmu padanya.
Yang kau kenal sebentar saja.
Kau memilihnya. Dan aku kau lempar begitu saja.

Aku diam…kulangkahkan kakiku perlahan.
Berjanji…tak ingin lagi aku tertipu dengan mata.
Mata indah seperti yang kau punya.

Selasa, 15 Juni 2010

WIL....Sunday, June 13th, 2010 01:10 a.m




Pukul dua dini hari lelaki itu menelepon saya. Saya sempat kesal, pagi-pagi buta ada telepon. Padahal saya baru saja memejamkan mata. Tapi begitu saya tau telepon itu dari dia, rasa kesal saya mendadak sirna. Saya angkat teleponnya. Dia bilang dia tak bisa tidur makanya dia menepon saya. Saya tanya, memangnya saya obat tidur yah? Dia tertawa. Saya ikut tertawa. Tapi saya tertawa pelan saja. Takut membangunkan teman sekamar saya. Maklum, saya di kosan sekamar berdua. Saya berbicara dengan berbisik, Sekali lagi supaya tak membangunkan teman sekamar saya. Dia tertawa lagi. Dia bilang suara saya jadi seksi. Hihi.
Tiba-tiba saja saya penasaran untuk menanyakan sesuatu.
“Mau tanya boleh nggak?”
“Boleh, mau nanya apa sih?” sumpah, saya senang mendengar suaranya. Lembut dan membuat hati saya  teduh. Sungguh, saya rasa dia sudah belajar banyak bagaimana cara berbicara yang baik dengan wanita.
“Kenapa aku yang kamu telepon? Kenapa bukan pacarmu?” Saya sengaja menanyakan itu, supaya saya juga kembali sadar kalau “lelaki itu tak lagi sendiri seperti saya”. Dia sudah berdua. Sudah ada wanita yang lebih dulu mengenalnya, menangkap hatinya daripada saya. Dan dia pernah cerita, Wanita itu adalah wanita yang setia, meskipun hubungan mereka jarak jauh.
“…” Tak ada suara, yang ada hanya tarikan napas panjang. Aku tau, dia di seberang sana mendadak jadi bisu.
“Jawab.” Saya benar-benar ingin tahu.
“Maaf. Tolong jangan tanya itu. Aku tak bisa menjawabnya.” Suaranya mendadak lemah.
Saya terdiam. Andai dia tau, mata saya berkaca-kaca. Saya hampir menangis. Lelaki itu mungkin tak  tahu betapa lemahnya saya. Termasuk soal hati. Saya membayangkan andai pacarnya tau apa yang sedang dilakukan lelaki itu. Ngobrol  dengan wanita seperti saya. Yang saya sadari dan tak perlu saya ingkari. Ada yang spesial antara saya dan lelaki itu.
Saya terbayang kembali. Wajah wanita itu. Wanita yang fotonya pernah saya lihat di fesbuk lelaki yang menelepon saya. Saya juga seorang wanita, wanita yang pernah mencintai seseorang. Saya juga tahu bagaimana sakitnya dikhianati. Tapi kembali dengan hati saya sendiri. Saya tak kuasa menolak semua ini. Saya kesepian. Saya butuh perhatian. Saya butuh seseorang yang yang membuat hari-hari saya sedikit berwarna. Saya butuh teman ngobrol, saya butuh teman berbagi.
Bukan saya tak punya perasaan, tapi justru karena yang sedang saya bicarakan soal perasaan. Sampai sadar.  “Saya Salah”, “Saya Lemah”.
Saya sadar kami diam terlalu lama. Gantian dia yang bertanya.
“Kapan-kapan aku boleh ngajak kamu nonton lagi nggak?”
Oh…saya lupa cerita, dua minggu lalu dia mengajak saya kencan. Kami makan. Kami nonton. Hanya berdua. Sungguh menyenangkan.
“Uhm…kapan ya?” saya ragu.
“Boleh nggak?” suaranya itu membuat saya tak kuasa berkata tidak.
Saya diam sejenak.
“Boleh.” Jawab saya pelan. Itu memang jawaban yang tepat dari gadis lemah seperti saya.
Sekali lagi, itu memang jawaban saya dari hati yang terdalam. Bukan saya tak punya perasaan, tapi justru karena yang sedang saya bicarakan soal perasaan. Sampai sadar.  “Saya Salah”, “Saya Lemah”.

Jumat, 11 Juni 2010

Masih tetap…takkan pernah bosan… Dengan puisi tentang cinta...



Dari mana kumulai…darimana kuakhiri…
Jangan tanya itu lagi…sungguh…aku tak mengerti.
Namanya juga hati…
Hati itu tak bisa ditakar dengan sesuatu yang pasti.

Satu kamu…dua kamu…tiga kamu…
Jangan tanya lagi mengapa harus kamu…dan kamu lagi
Ada waktu, kamu dan rindu.
Karena waktu aku mengenalmu...
Karena kamu membuatku rindu…

Jika tak ada kamu, maka waktu tak berarti bagiku
Jika tak ada kamu, mungkin aku tak tahu apa itu rindu

Aku dalam diamku…
Masih di sini dengan sebuah hati yang berukir namamu…
Aku dengan rasaku…
Selalu di sini dengan segenap jiwa yang terpatri bayangmu

Saat aku berkata…ini cinta…
Sungguh ini lebih dari sekedar cinta…

Jumat, 28 Mei 2010

Uhm...Uhm...

Saya tersenyum...dia tersenyum...sumpah saya kangen
Tapi kangennya saya simpan dalam hati...jangan sampai ketauan kalau saya kangen...
Walaupun saya tau...dia pasti tau kalo saya kangen berat...
Saya juga tau...dia beneran kangen saya...
Hanya senyum...dan saling pandang...
Trus...dan...kemudian...ng
obrol sebentar...

Gak ada sesuatu yg spesial kok...tapi segalanya spesial...
Haaaa....
Melihatnya saja saya sudah senang...

Saya pusing...kikuk...
Bodoh!!!!--- otak saya memaki-maki---kenapa lo nggak ngambil kesempatan ini? kapan lagiiii?
Tapi sumpah...mulut saya terkunci...kami berdua ---eh, ramean malah---- cuma ngomong seadanya...senyum seadanya...tertawa seadanya...
Buat saya sih itu sudah cukup...daripada mengada-ngada dan diada-adakan...lebih baik ala kadarnya...a.k.a seadanya sebagaimana adanya
Cukup menandakan kalau saya masih ada...dia juga masih ada..

Setidaknya....beginilah saya dan dia adanya...hahaha

Sekali lagi...
Gak ada sesuatu yg spesial kok...tapi segalanya spesial...
Haaaa....
Melihatnya saja saya sudah senang...

Saya masih menunggu selanjutnya---apa yang akan ada...

Sabtu, 15 Mei 2010

Pesan singkat yang membuat senang

Teman saya sedang wara-wiri sana sini, melongok berkali-kali ke arah etalase yang memamerkan barang-barang yang menurut saya “alangkah tak baik” untuk mata. Karena kalau mata sudah tergoda habislah isi dompet. Begitulah wanita umumnya----dari mata turun ke dompet---hoooho. Kepala saya sakit. Jadilah saya memilih duduk sendiri di meja pojok yang kebetulan dianugerahkan letak yang strategis. Tepat di depan fancy tempat teman saya sedang wara-wiri tadi.
Kebetulan pula…saya tak suka belanja…kalaupun saya ke sana cukup melihat sebentar saja. Tapi hari ini, saya tak minat untuk melihat juga. Sambil menunggu teman saya yang sedang menikmati wara-wirinya, saya mengeluarkan ponsel dari tas saya. Tak perlu menunggu, tak perlu berpikir…nama itu memang sudah ada di kepala saya sedari tadi…apalagi di hati saya sudah memang mungkin “terpatri”…
Jari saya menekan tombol-tombol mungil itu bergantian secara cepat. Saya ketik pesan singkat untuk dia yang berada di seberang sana.
“eiii…3 pertanyaan langsung ya…gimana mudiknya? How’s ur weekend goin’ on? Kapan balik?”
Send….delivered…
Tak sampai lima menit sudah ada balasan. Saya seruput mochacino dingin di depan saya sebentar. Saya baca pesan balasan darinya.
“hehe…mudik lancar…weekend di sini rame…baliknya bsk sore…kamu lagi dimana?”
Saya tersenyum…membayangkan ekspresi wajahnya menerima pesan singkat saya. Jadilah saya berbalasan pesan dengannya…walaupun hanya empat kali…tak penting saya tuliskan apa pesan selanjutnya yang beruntut diantara saya dan dia.
Tak saya pedulikan kepala saya yang sempat sakit…sakit kepala karena kafein yang terlalu banyak saya konsumsi.
Tak terlalu istimewa. Setiap isi pesannya biasa saja. Tapi sungguh, saya senang. Senang karena isi pesannya membuat saya lupa sejenak pada teman saya yang sedang wara-wiri di depan etalase. Senang karena itu juga membuat saya lupa kalau saya sedang sakit kepala. Oh…pesan singkat yang membuat hati saya sungguh sangat senang…



Senin, 10 Mei 2010

Malaikat (saja) yang tau...




Aku hanya makhluk sederhana
Dalam diriku tiada sesuatu yang istimewa
Hanya hati
Dan sepercik rasa
Yang (mudah-mudahan) bisa terpancar seutuhnya

Kemarin kau tanya
“Sekarang pacarmu siapa?”
Aku tersenyum
Dan hanya akan menunjukkan diriku seadanya
Masih sama seperti sebelumnya
Aku masih bertahan dalam sosok sederhana yang tiada istimewa
Hanya hati dan sepercik rasa
Dan…itu…masih pada seorang saja

Minggu, 02 Mei 2010

Impressing...

Seeeeeeerrrrrrrrt….
Desiran itu menyapu habis seluruh raga saya saat mata saya dan matanya beradu.
Dug!!!
Pukulan hebat menendang jantung saya…berhenti berdetak sejenak. Saya diam. Bodoh. Tak tau harus melakukan apa. Frezz! Pose beku!
Sekilas…pertama kali….tak sampai tiga detik kami bertatapan. Saya belum mengenalnya. Dia juga belum mengenal saya. Kami tak pernah saling tau. Bukan teman fesbuk…bukan pula teman sepermainan, apalagi teman dekat. Namanya saja saya tak tahu…
Tiga kali saya berpapasan dengannya dalam dua jam.
Dan semua berawal saat dia tersenyum pada saya. (yah? Senyumnya!!)
“Gubrakkkkkzzz!!!”…hampir saya hilang keseimbangan. oh…oh…oh…saya menyesal atau senang. Bingung saya!
Saya bukan yang tercantik malam itu. Tapi saya au dia memperhatikan saya ---- dan saya juga memperhatikannya, makanya saya  tahu dia curi-curi pandang pada saya.
Sayangnya, saya tak sempat tau siapa namanya. Saya terburu-buru. Tak enak badan. Mungkin kelelahan.
Yah, mungkin ini lebih baik. Karena waktu itu…melihat dia tersenyum saja jantung saya berhenti berdetak dan tubuh saya mendadak beku. Apalagi jika harus berbicara padanya. Uhm…hiperbolis sedikit boleh yah…MUNGKIN SAYA BISA MATI BERDIRI.
Anyway, saya jadi mikir...lain kali sebelum pergi ke acara seperti ini saya harus menyimpan lebih banyak energi buat tubuh dan hati. Biar nanti, kalo ketemu dia lagi…saya bisa kuat dan tidak mati berdiri…hahahahaha.