Hei…liat tuh! Pagi ini dia pake kemeja abu garis-garis. Seperti puluhan, ratusan, ribuan, jutaan, milyaran (oucth…countless! Aku tak pernah tahu sudah berapa jumlah detik yang kuhabiskan untuk memperhatikan “Mr. Owesome Killing” itu) detik yang lalu, lengan kemejanya digulung sampai hampir mencapai siku. Yang kutahu sejak pertama kali mataku berkenalan dengan sosoknya, dia memang hobi sekali menggulung lengan kemejanya.
And…no! aku harus cepat-cepat mengalihkan pandanganku ke arah monitor laptop di depanku.
Saat-saat paling mematikan…derap langkahnya terdengar sayup…makin keras…makin dekat…Meski sudah akrab di telingaku, tapi tetap saja aku belum pernah bisa dan mungkin takkan pernah bisa mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi pesonanya.
Then… in 5 foot steps.
“Morning!...” .Dug! Dia kini sudah ada di samping mejaku. Aku hanya berani melirik sekilas tangannya yang sejajar dengan kepalaku. Tangannya meletakkan segelas Styrofoam si Esspreso dingin di atas mejaku.
“Morning George…” ucapku singkat, jari-jemariku menari cepat di atas keyboard. Mataku bergerak cepat menatap monitor. Hebatnya Almighty God who’s made my fingers…bahkan di saat aku nervous pun, jariku masih lentur bergerak di atas keyboard.
“How about our planning module for second project?”, hufth!...Jesus Christ!...dia mendekatkan wajahnya ke layar monitor laptopku. Kini jarak wajahku dan wajahnya kurang dari sepuluh senti and if I want I can grab his lips right now! And eat it like oat breakfast!... bulir keringat mulai mengalir dari pori-pori punggungku, jantungku berhenti berdetak. Kau tau! Ini pergumulan paling hebat setiap hari yang kurasakan!...setiap hari!...saat-saat seperti ini!
“Less than 2 hours I will put it on your desk.” Jawabku pelan. Setengah mati aku berusaha untuk bisa menjawab senormal ini.
“Cool!...faster more than I guess.” dia menepuk bahuku… ooooh! Aliran darahku yang beku kembali lancar saat dia meraih kembali si Esspreso yang diletakkannya di atas mejaku. Kuberanikan meliriknya sekilas sambil tersenyum semanis mungkin. Hanya dua detik…mataku dan matanya…senyumku dan senyumnya. Dalam dua detik aku bisa mengingat seluruh detail sosoknya. Matanya, hidungnya, bibirnya, lehernya, bahunya, lengannya….uhm... gila! May be it’s it still been foolish act I ever done! Being damn on crazy by his great own stuffs every second!!!
Dia melangkah menjauh dari mejaku menuju ruangannya…
Aku menatap punggungnya tak henti saat dia membelakangiku, tak pernah berhenti sampai dia menghilang di balik pintu.
Kemudian kulirik kau sekilas, kau mengendap-endap sambil tersenyum nakal dari dalam mug mungil bergambar hati ini. Iiiih! Apa yang lucu??? Hah?
Then… setelah war killing time barusan aku akan menegukmu setelah kau menertawakanku dengan senyuman nakalmu…hahaha! mochacinoku…


