Aku tersenyum sambil menatap matamu…mata yang sama dengan mata dua tahun lalu. Mata yang telah menyihirku dengan segala pesona yang merengkuh habis jiwaku yang lugu[atau mungkin dungu].
Jemarimu membelai lembut pipiku…
“Aku sayang kamu.” Katamu sambil mengecup lembut bibirku. Aku memejamkan mata 1… 2…3 detik. Yah, bahkan aku hapal luar kepala berapa lama kau mengecup bibirku…3 detik. Aku tenggelam dalam keindahan singkat yang selalu kau persembahkan dengan kemasan yang luar biasa.
Kau menatapku kembali…sangat dalam. Aku meremas punggung tanganmu sekuat tenaga. Aku tak mau berkata banyak, tapi aku yakin kau tahu dan kau melihat,.mataku mengucapkannya tanpa harus kau dengar…kau tahu.
Kita ialah kata yang tercipta…
Yang semestinya tak terjadi…
Suara lembut Marcel yang menjadi nada dering ponselmu berbunyi…sejujurnya, aku benci dengan penggalan kata lagu itu….berulang kali aku suruh kau ganti nada deringmu, tapi kau tak pernah menggantinya. Alasanmu…lupa…atau …batinku bilang memang sengaja…supaya aku ingat apa yang digambarkan sang waktu pada dunia nyata kita?
Kau mengangkat ponselmu…
“Iya honey, setengah jam lagi aku sampai di sana. Sekarang udah otw kok…I love u…”
Klik, kau putuskan telepon dan memperbaiki dasimu.
“Sayang…aku harus jemput istriku sekarang. Nanti aku sms kamu ya!”
Cup!!...satu kecupan mendarat mulus di pipiku…kau pun berlalu….
Kau tak pernah tau, air mataku mengalir saat itu, saat kau berbalik membelakangiku.
Aku…kau…semua ini. Tentang kita sendiri…
Tercipta saling mengisi…saling melengkapi…saling membutuhkan…tapi tak boleh…tak bisa…tak mungkin…atau TAK AKAN PERNAH UNTUK SALING MEMILIKI.

