About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

Senin, 22 Februari 2010

TERLAMBAT

Aku selalu hanya bisa tersipu saat kau mengucapkan kalimat itu.
“Aku suka banget sama senyum kamu.”
“Dari dulu…” ucapmu lagi…
“Aku tau…kau mau bilang dari tiga tahun lalu kau menyukai senyumku kan?” celetuk batinku.
“Dari tiga tahun lalu…senyummu nggak pernah berubah.” Hooop! Baru saja aku menduga…
Kuletakkan benda itu di hadapanmu. Kau meraih benda itu tanpa disuruh.
Kau menatapnya lama.
Hening…
3 menit kemudian…
tik…tik…tik…
7 detik kemudian…
Kau menghela napas…
Sejenak aku jadi seonggok makhluk bisu yang terpaku di depanmu…
Aku membisu karena lembaran merah marun berhias pita emas yang ada di hadapanmu itu sudah berbicara mewakiliku lebih dulu…
“Aku terlambat…” matamu berkaca. Hatiku ngilu melihat matamu berkaca.
Hening…tik..tik…tik…3 detik…
“yah…kamu memang terlambat…”, aku menatapmu dalam...berharap andai aku bisa masuk dalam bola matamu itu.
“kenapa harus begini?” tanyamu dengan suara lirih.
“Karena kamu terlalu lama menikmati senyumku…tanpa pernah berusaha untuk memilikinya.” Ucapku.
Kini giliranmu yang berubah bisu…
Akupun bergegas berlalu…meninggalkanmu yang sedari dulu hanya bisa menikmati senyumku saja.