About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

Kamis, 18 Maret 2010

"any other topic???"

"Hah?...hahaha...masa kalah sama anak SMA!", mereka tertawa.
Aku cuma diam...satu..dua detik...kemudian aku tersenyum...lebih tepatnya memaksa tersenyum.

"Terlalu pemilih", komentar yang satu. Aku tau yang satu ini sudah menjadi sokoguru dalam "topik" yang sedang kami bicarakan. Pengalamannya sudah banyak.

"Terlalu idealis...perfeksionis....jadi gak realistis." tambah makhluk cantik yang mengenakan cardigan merah muda.

Aku diam. Jari tengahku mengetuk-ngetuk tulang pipiku. Bibir bawahku naik dua mm ke atas dan maju tiga mm ke depan.

"Hello...mau jadi perawan tua buk? Hehehe...gimana lo tau kalo lo nggak nyoba?", tanya si hitam manis yang makin manis dengan eyeshadow peach-nya.

Waduh! "emangnya hidupku ini kelinci percobaan...pake coba-coba", batinku.

Entah apa lagi..kemudian...aku menyantap...komentar yang sama dengan kemasan kata-kata berbeda dari mereka...

Sampai akhirnya...aku berkata...

"uhm..sorry, gue ke toilet bentar yah!"

Aku benci pertemuan ini. Benci kalau mereka membahas ini lagi. Kenapa mereka musti bahas ini lagi...ini lagi...ini lagi...
Ada banyak hal yang menarik untuk dibahas...prestasiku, pekerjaanku, atau mungkin anjing peliharaanku...

...tik...tik...tik...

sudah lima belas menit aku mendekap di depan cermin kamar mandi. Sungguh aku tak tahan bila mendengar mereka membahas ini lagi...