..."maaf..." aku bergegas mengambil posisi duduk di depannya. "udah lama?", tanyaku.
..."baru..." dia melirik arloji yang melingkar di pergelangan kirinya. "baru 2 jam 15 menit". katanya sambil tersenyum.
..."Hah?... , maaf banget, tadi ada klien yang mendadak minta ketemu. Jadinya gini deh, bikin kamu jamuran di sini." aku sangat menyesal, sungguh menyesal membuatnya menunggu terlalu lama.
..."cuma terlambat 2 jam 15 menit kok...nggak kayak aku terlambat seumur hidup sampe keduluan orang lain." dia membolak-balik buku menu.
aku diam...hening 5 detik.
"udahlah...aku yakin kok kamu bisa dapat yang lebih baik." aku menatapnya lekat-lekat. Kalau perlu aku masuk menembus dalam raganya.
"sayangnya...belum ada yang lebih baik dari kamu...atau mungkin nggak akan pernah ada." dia tak menoleh sedikitpun padaku. Matanya masih melompati lembaran buku menu.
"karena kamu nggak pernah buka hati dan lari mencari yang lebih baik." aku meraih buku menu di depanku.
Kata-kataku barusan membuat matanya refleks membidik wajahku. Kini aku dan dia beradu pandang.
dan..."Cuma 2 jam 15 menit kok..." dia tersenyum lalu melambaikan tangan ke arah waitress..

