Mobil diparkir di basement X Mall. Aku dan Martin pun berjalan menuju lift.
“ Sebenarnya kita mau ke mana sih?” tanyaku.
“Ada aja...” Martin mengedipkan matanya.
Sampai di lantai tiga. Setelah berjalan sebentar mengelilingi lantai tiga X Mall, kami singgah di sebuah toko perhiasan.
“Toko perhiasan?? Ngapain kita ke sini?” Aku menatap heran pada Martin.
“Aduh..jangan nanya2 dulu, pokoknya gue butuh banget bantuan lo kali ini. Ok.” Martin menggandeng tanganku ketika masuk ke dalam toko perhiasan tersebut.
Toko perhiasan ini cukup besar. Melihat tempatnya, bisa ditebak perhiasan yang mereka jual bukan sembarang perhiasan. Paling tidak, kisaran harganya mencapai delapan digit.
Seorang pramuniaga muncul dari balik etalase sambil tersenyum menyambut kami. Sepertinya dia sudah mengenal Martin sebelumnya. Jantungku berdetak kencang,...aku dan Martin ke toko perhiasan. Tak mungkin untuk membeli mochacino kesukaanku atau nasi pecel kesukaan Martin. Apalagi kalau bukan untuk...
“Permisi Mbak!..saya mau liat cincin yang kemarin dong!” kata Martin pada penjaga toko tersebut.
“Sebentar ya mas.”
Tak lama kemudian, wanita tersebut mengeluarkan sebuah kotak kecil biru berbentuk hati.
Senyum Martin mengembang sambil meraih kotak tersebut.
“Tha, sini deh.” Martin meraih jemariku, lalu memakaikan cincin tersebut di jari manisku.
” Cincinnya cocok banget sama mbak.” Si pramuniaga tersenyum.
Aku hanya diam. Masih bingung dengan apa yang sedang terjadi. Sebuah cincin kini melingkar di jari manisku. Aku masih terpaku memandangi cincin tersebut. Cincin emas putih dengan mata kecil berbentuk hati di tengahnya.
“ Gimana, bagus nggak?” tanya Martin.
“ Ya. Bagus.” jawabku pelan.
“ Sip! Berarti gue nggak salah pilih...” Martin menoleh ke arah pramuniaga. “Mbak, saya jadi ambil ini.” katanya.
Aku mengeluarkan cincin tersebut dari jari manisku. Entah kenapa, ada firasat buruk terbersit dalam benakku.
“ Tau nggak, gue sengaja bawa lo ke sini. selain ukuran jari lo yang sama persis dengan ukuran jari Vanessa, elo juga jago milih. ” ujar Martin mantap.
“Jago milih?”
“Ya,...kalo elo udah bilang bagus, berarti bagus. Gue ingat waktu kuliah elo kan pernah ngebantu gue buat milih kado untuk valentine. Dan sekarang cincin tunangan...dan lo tau ini adalah salah satu bagian terpenting dalam hidup gue. Artinya lo adalah orang yang berperan penting dalam hidup gue.” Martin menggenggam tanganku erat. Aku mendadak lemas.
Oh Tuhan! Tolong aku! Detak jantungku berhenti berdetak sejenak. Dalam sekejap hatiku hancur lebur. Perih... ngilu...
“ Thanks ya Tha, emang lo tu sohib gue yang paling top.” Martin mengecup pipiku.
Aku berusaha setengah mati untuk tetap tersenyum , walaupun hatiku sedang menangis sejadi-jadinya.
“Ya...sama-sama. Sampai gue akan tetap jadi sahabat lo. Buat gue nggak ada yang lebih penting dari kebahagiaan seorang sahabat. ” kataku lirih.
“Thanks banget Tha.” Dia menggengam tanganku kembali.
“Oh ya, by the way… elo orang pertama yang tau gue mau ngelamar Vanessa.”
“Dan kini aku orang yang paling menderita karena kamu melamarnya.” batinku.
Aku tertawa garing. Menahan sejuta luka yang menghujam jiwaku.
Kutarik napasku dalam-dalam “Nggak terasa ya...8 tahun persahabatan kita. Dan elo bentar lagi nikah. Cepat banget rasanya.” .
“Ya, namanya proses kehidupan kan emang harus berlanjut.” Martin membuka pintu mobil.
Aku mendesah sambil memalingkan wajahku.
“Tenang aja. Satu kali nanti elo pasti ketemu jodoh yang terbaik kok.”Martin menepuk pundakku sambil tangan kanannya menghidupkan mesin mobil.
Aku hanya tersenyum sekedarnya.

