About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

Senin, 01 Maret 2010

TITIK

"jangan! plizzz!". Kau menahan tanganku dengan wajah memelas.

"Aku masih sayang kamu." kata-kata yang sama selalu muncul entah puluhan, ratusan atau ribuan kalinya saat aku mulai menuju titik...anehnya waktu itu kau selalu berhasil membuatnya jadi koma. Tapi kujanji kali ini TIDAK!

"Kumohon..." desismu. Wajahmu semakin pucat, matmu berkaca.

Kau tau??? Melihat wajahmu begitu...aku ingin segera memelukmu...tak tega melihat wajahmu begitu...aku...aku...aku masih sangat-sangat-sangat sayang kamu...

Tapi...logikaku berkata"INI HARUS DIAKHIRI DENGAN TITIK"

"Udahlah!!!" kutarik tanganku secara paksa dari cengkramanmu.

"Terlalu sering...aku capek..." aku mulai menangis.

"Maafin aku ...plisss"

"Shut up !!! And Throw up ur bull shit away!" Aku berteriak...emosiku tumpah untuk pertama kalinya.

Aku lari kencang....kau kejar...tapi ternyata aku bisa lebih kencang ... sampai kau tak bisa lagi mengejar.

"Klip". TITIK!!!.
Aku bersandar....terengah-engah, napasku putus-putus...hufth!

AKHIR NYA---TITIK.

Titik bukan berarti akhir. Setelah titik kuharapa aku bisa memulai paragraf baru dengan cerita yang lebih baik.