“Harusnya kamu begini…”
“Makanya saya kan udah bilang jangan begitu…”
“Apa saya bilang..coba kamu dengar kata saya…”
“Cobain yang ini deh….pasti begini…pasti begitu…bla…bla…bla…” , dan seterusnya.
Ingin rasanya suara saya naikkan lima puluh oktav (andaikan bisa) sambil teriak pake TOA …”ENOUGH!!!”…
Bisakah semuanya untuk saat ini biarkan saya sendiri dulu?…biarkan saya berpikir sendiri sebentar saja. Saya hampir menangis. Bukannya semua dulunya juga begitu…sebagian besar juga saya lakukan kok. Sampai hampir delapan puluh persen isi kepala saya bukan “SAYA”…tapi “MEREKA”. Padahal ini kan kepala saya!
Kali ini saya benar-benar hilang kesabaran…saya bangkit dari duduk saya. Menyumpal telinga saya sendiri supaya suara-suara tak jelas itu tak saya dengar lagi. Saya akan buka kembali kalau memang suars-suara itu benar-benar jelas. Jelas apa maknanya, jelas apa tujuannya.
Karena saya terlalu capek mendengar apa kata orang...sampai saya mengabaikan kata hati saya sendiri...untuk kali ini...apa yang ada kini...TAKKAN PERNAH SAYA ABAIKAN LAGI..karena sesungguhnya saya tak mau menyesal di kemudian hari.

