Teruntuk seseorang saja…
Kupastikan semua ini memang hanya untuk kamu seorang…
engkau seorang saja…
Malam ini…bersama segenap rasa yang masih (tetap) akan (selalu) utuh…
Kusebut saja tanganku mewakilkan catatan hati yang terdalam…
Karena memang hatiku tak bisa menggapai tombol-tombol huruf ini…
Seperti layaknya jari-jari tanganku yang kini menari-menari di atasnya…
Dan sekarang…ijinkan tanganku mewakili hatiku…merangkai semuanya…dalam satu suratan berisi rangkaian dawai kata yang mungkin jika dilantunkan tak begitu indah…
Kumulai semuanya diiringi satu ketukan detik diikuti detik berikutnya….kemudian detik berikutnya dan seterusnya…
Kutulis satu paragraf kisah tentangmu… dan…kutambah satu paragraf lagi…yang masih juga tentangmu…dan berikutnya…jangan tanya lagi tentang apa…dan lagi paragraf berikutnya masih tentangmu… dan aku belum selesai menulis beberapa paragraf lagi…yang tentu saja…masih tentangmu….
Pernah beberapa kali aku mencoba menulis paragraf baru… yang bukan tentangmu…
Tapi ternyata tak pernah selesai…hanya beberapa bait kata di awal….dan kemudian halamannya kurobek…
Dan kusambung lagi dengan paragraf tentangmu…
Hanya satu kalimat mungkin untuk mengakhiri paragraf ini…”rasa ini masih (tetap) akan (selalu) utuh seperti paragraf yang ‘tentangmu’ yang tak pernah berhenti kutulis.

