About my Blog

But I must explain to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was born and I will give you a complete account of the system, and expound the actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain

Minggu, 02 Mei 2010

Impressing...

Seeeeeeerrrrrrrrt….
Desiran itu menyapu habis seluruh raga saya saat mata saya dan matanya beradu.
Dug!!!
Pukulan hebat menendang jantung saya…berhenti berdetak sejenak. Saya diam. Bodoh. Tak tau harus melakukan apa. Frezz! Pose beku!
Sekilas…pertama kali….tak sampai tiga detik kami bertatapan. Saya belum mengenalnya. Dia juga belum mengenal saya. Kami tak pernah saling tau. Bukan teman fesbuk…bukan pula teman sepermainan, apalagi teman dekat. Namanya saja saya tak tahu…
Tiga kali saya berpapasan dengannya dalam dua jam.
Dan semua berawal saat dia tersenyum pada saya. (yah? Senyumnya!!)
“Gubrakkkkkzzz!!!”…hampir saya hilang keseimbangan. oh…oh…oh…saya menyesal atau senang. Bingung saya!
Saya bukan yang tercantik malam itu. Tapi saya au dia memperhatikan saya ---- dan saya juga memperhatikannya, makanya saya  tahu dia curi-curi pandang pada saya.
Sayangnya, saya tak sempat tau siapa namanya. Saya terburu-buru. Tak enak badan. Mungkin kelelahan.
Yah, mungkin ini lebih baik. Karena waktu itu…melihat dia tersenyum saja jantung saya berhenti berdetak dan tubuh saya mendadak beku. Apalagi jika harus berbicara padanya. Uhm…hiperbolis sedikit boleh yah…MUNGKIN SAYA BISA MATI BERDIRI.
Anyway, saya jadi mikir...lain kali sebelum pergi ke acara seperti ini saya harus menyimpan lebih banyak energi buat tubuh dan hati. Biar nanti, kalo ketemu dia lagi…saya bisa kuat dan tidak mati berdiri…hahahahaha.