Teman saya sedang wara-wiri sana sini, melongok berkali-kali ke arah etalase yang memamerkan barang-barang yang menurut saya “alangkah tak baik” untuk mata. Karena kalau mata sudah tergoda habislah isi dompet. Begitulah wanita umumnya----dari mata turun ke dompet---hoooho. Kepala saya sakit. Jadilah saya memilih duduk sendiri di meja pojok yang kebetulan dianugerahkan letak yang strategis. Tepat di depan fancy tempat teman saya sedang wara-wiri tadi.
Kebetulan pula…saya tak suka belanja…kalaupun saya ke sana cukup melihat sebentar saja. Tapi hari ini, saya tak minat untuk melihat juga. Sambil menunggu teman saya yang sedang menikmati wara-wirinya, saya mengeluarkan ponsel dari tas saya. Tak perlu menunggu, tak perlu berpikir…nama itu memang sudah ada di kepala saya sedari tadi…apalagi di hati saya sudah memang mungkin “terpatri”…
Jari saya menekan tombol-tombol mungil itu bergantian secara cepat. Saya ketik pesan singkat untuk dia yang berada di seberang sana.
“eiii…3 pertanyaan langsung ya…gimana mudiknya? How’s ur weekend goin’ on? Kapan balik?”
Send….delivered…
Tak sampai lima menit sudah ada balasan. Saya seruput mochacino dingin di depan saya sebentar. Saya baca pesan balasan darinya.
“hehe…mudik lancar…weekend di sini rame…baliknya bsk sore…kamu lagi dimana?”
Saya tersenyum…membayangkan ekspresi wajahnya menerima pesan singkat saya. Jadilah saya berbalasan pesan dengannya…walaupun hanya empat kali…tak penting saya tuliskan apa pesan selanjutnya yang beruntut diantara saya dan dia.
Tak saya pedulikan kepala saya yang sempat sakit…sakit kepala karena kafein yang terlalu banyak saya konsumsi.
Tak terlalu istimewa. Setiap isi pesannya biasa saja. Tapi sungguh, saya senang. Senang karena isi pesannya membuat saya lupa sejenak pada teman saya yang sedang wara-wiri di depan etalase. Senang karena itu juga membuat saya lupa kalau saya sedang sakit kepala. Oh…pesan singkat yang membuat hati saya sungguh sangat senang…

