Pukul dua dini hari lelaki itu menelepon saya. Saya sempat kesal, pagi-pagi buta ada telepon. Padahal saya baru saja memejamkan mata. Tapi begitu saya tau telepon itu dari dia, rasa kesal saya mendadak sirna. Saya angkat teleponnya. Dia bilang dia tak bisa tidur makanya dia menepon saya. Saya tanya, memangnya saya obat tidur yah? Dia tertawa. Saya ikut tertawa. Tapi saya tertawa pelan saja. Takut membangunkan teman sekamar saya. Maklum, saya di kosan sekamar berdua. Saya berbicara dengan berbisik, Sekali lagi supaya tak membangunkan teman sekamar saya. Dia tertawa lagi. Dia bilang suara saya jadi seksi. Hihi.
Tiba-tiba saja saya penasaran untuk menanyakan sesuatu.
“Mau tanya boleh nggak?”
“Boleh, mau nanya apa sih?” sumpah, saya senang mendengar suaranya. Lembut dan membuat hati saya teduh. Sungguh, saya rasa dia sudah belajar banyak bagaimana cara berbicara yang baik dengan wanita.
“Kenapa aku yang kamu telepon? Kenapa bukan pacarmu?” Saya sengaja menanyakan itu, supaya saya juga kembali sadar kalau “lelaki itu tak lagi sendiri seperti saya”. Dia sudah berdua. Sudah ada wanita yang lebih dulu mengenalnya, menangkap hatinya daripada saya. Dan dia pernah cerita, Wanita itu adalah wanita yang setia, meskipun hubungan mereka jarak jauh.
“…” Tak ada suara, yang ada hanya tarikan napas panjang. Aku tau, dia di seberang sana mendadak jadi bisu.
“Jawab.” Saya benar-benar ingin tahu.
“Maaf. Tolong jangan tanya itu. Aku tak bisa menjawabnya.” Suaranya mendadak lemah.
Saya terdiam. Andai dia tau, mata saya berkaca-kaca. Saya hampir menangis. Lelaki itu mungkin tak tahu betapa lemahnya saya. Termasuk soal hati. Saya membayangkan andai pacarnya tau apa yang sedang dilakukan lelaki itu. Ngobrol dengan wanita seperti saya. Yang saya sadari dan tak perlu saya ingkari. Ada yang spesial antara saya dan lelaki itu.
Saya terbayang kembali. Wajah wanita itu. Wanita yang fotonya pernah saya lihat di fesbuk lelaki yang menelepon saya. Saya juga seorang wanita, wanita yang pernah mencintai seseorang. Saya juga tahu bagaimana sakitnya dikhianati. Tapi kembali dengan hati saya sendiri. Saya tak kuasa menolak semua ini. Saya kesepian. Saya butuh perhatian. Saya butuh seseorang yang yang membuat hari-hari saya sedikit berwarna. Saya butuh teman ngobrol, saya butuh teman berbagi.
Bukan saya tak punya perasaan, tapi justru karena yang sedang saya bicarakan soal perasaan. Sampai sadar. “Saya Salah”, “Saya Lemah”.
Saya sadar kami diam terlalu lama. Gantian dia yang bertanya.
“Kapan-kapan aku boleh ngajak kamu nonton lagi nggak?”
Oh…saya lupa cerita, dua minggu lalu dia mengajak saya kencan. Kami makan. Kami nonton. Hanya berdua. Sungguh menyenangkan.
“Uhm…kapan ya?” saya ragu.
“Boleh nggak?” suaranya itu membuat saya tak kuasa berkata tidak.
Saya diam sejenak.
“Boleh.” Jawab saya pelan. Itu memang jawaban yang tepat dari gadis lemah seperti saya.
Sekali lagi, itu memang jawaban saya dari hati yang terdalam. Bukan saya tak punya perasaan, tapi justru karena yang sedang saya bicarakan soal perasaan. Sampai sadar. “Saya Salah”, “Saya Lemah”.


