MATA
Dua bola bening nan meneduhkan itu…
Kuakui yah…untuk “ukuran kesan pertama”…matamu memang mempesona
Membuatku ingin berlama-lama menatapmu.
Sah…matamu membiusku.
Matamu memang luar biasa waktu itu.
Bergerak…perlahan…penuh makna…seiring sejalan dengan setiap kata-kata yang melncur dari bibirmu.
Kutahu…matamu itu…memang sempurna.
Pada suatu hari…saat hari pertama kumelihat mata indahmu itu telah berlalu…
Aku benar-benar melihat mata paling sempurna sedunia...
Tik…satu detik beserta satu kalimat itu.
Oh, sungguh matamu telah menjadi “yang paling indah sedunia”
Belum lagi bonus kalimat yang meluncur dari bibirmu kini memang sangat tulus.
“aku cinta kamu”, katamu pelan…huuuuuh…hatiku ini rasanya seperti padang gurun yang tiba-tiba diguyur air gunung…
Matamu dan mataku…ikut hatiku dan hatimu…
Kita…bersama…berdua…melekat erat
Dan kemudian…jiwa kita membeku di peraduan itu…
Pada suatu hari lagi…yang kusebut kemudian hari…setelah berhari-hari kita mendekam di peraduan…
Untuk pertama kalinya matamu tak seindah pertama kali…
Matamu tak lagi bening…tak lagi penuh makna…
Tak lagi bening tapi berganti keruh…
Tak mampu lagi meneduhkanku…tapi sebaliknya membuatku ingin cepat berlalu…
“Kita putus.” Ucapmu.
Aku diam…tak kuasa memandang matamu…
Karena kutahu, makin aku memandangmu…makin jiwaku terbunuh.
Ternyata matamu tak seindah dulu.
Matamu tak lagi berfungsi dengan baik.
Karena kau telah memutuskan untuk mengalihkan pandanganmu padanya.
Yang kau kenal sebentar saja.
Kau memilihnya. Dan aku kau lempar begitu saja.
Aku diam…kulangkahkan kakiku perlahan.
Berjanji…tak ingin lagi aku tertipu dengan mata.
Mata indah seperti yang kau punya.

